KUOTA 30 % PEREMPUAN

UU. No. 2 Tahun 2008 Tentang  Partai Politik dan UU.No. 10 Tahun 2008 Tentang Pemilu telah menggariskan kuota 30 % keterwakilan perempuan dalam lembaga legislatif. Agar 30 % keterwakilan perempuan di lembaga legislatif menjadi kenyataan, maka dalam UU.Pemilu tersebut ditetapkan bahwa  penyusunan daftar caleg dilakukan dengan sistem 2 banding satu, yaitu setiap tiga nama caleg terdapat sekurang-kurangnya satu   Keterwakilan perempuan.

 

Secara hukum kesempatan perempuan untuk meningkatkan keterwakilannya di lembaga legislatif sudah terbuka, dan kesempatan perempuan untuk menempati nomor urut awal dalam daftar caleg dapat menjadi kenyataan. Namun kompetensi perempuan dalam politik yang perlu dipertanyakan untuk dapat mengisi  ketentuan tersebut.

 

Kompetensi artinya kemampuan diri. Unsur –unsur kompetensi adalah :

1.    mengetahui apa dan kenapa ( what & why)

2.    Memiliki kemampuan bertindak (have willing to do)

3.    mengetahui cara bertindak ( how to do)

 

Pertanyaaannya disini adalah se berapa banyak  perempuan – perempuan kita di Indonosia sudah mengetahui apa dan kenapa berpolitik dan memiliki kemampuan political action dan mengetahui cara bertindak dalam politik.

 

Disamping kompetensi politik sebagaimana tersebut diatas,  perempuan perlu pula mencitrakan diri yang positif. Pencitraan diri yang positif terlihat dari nilai-nilai fisik, kematangan mental dan emosional,  memiliki percaya diri, strategis, arif dan bijaksana. Perempuan politik tidak boleh lagi terbelenggu dalam jiwa yang sempit, pikiran yang kerdil dan imajinasi yang pandak. Perempuan dalam politik sudah harus memiliki  kecerdasan, kebijaksanaan dan keberanian.

 

 

Streotipe perempuan yang selama ini disuarakan  adalah  perempuan  terbelenggu  oleh banyak hal. Secara eksternal perempuan dibelenggu oleh negara,  0leh agresor, oleh  kapitalis tamak, oleh industrialis global, oleh  merek ternama dan oleh  hollywood. Secara internal, perempuan dibelenggu oleh dirinya sendiri yaitu oleh  jiwa yang sempit, pikiran yang kerdil dan imajinasi yang pandak.   

 

Bila kita dengar suara perempuan, Kemajuan perempuan   perempuan terhambat disebabkan oleh  struktur dan  kultur masyarakat . Budaya patriarchi yang tertanam dalam kehidupan masyarakat  merupakan kendala berat yang dihadapi oleh perempuan. Laki-laki di negeri ini belum banyak yang sensitif jender, baik laki-laki dalam lingkungan  keluarga maupun laki-laki dalam lingkungan masyarakat. Bila isteri maju, suami mulai bertingkah aneh-aneh, menghambat kemajuan isterinya. Dan dalam lingkungan masyarakat, potensi perempuan sebagai pengambil keputusan publik sering dipersoalkan.   

 

Mudah-mudahan dengan lahirnya Undang-Undang baru di bidang politik (UU Parpol dan UU Pemilu), perubahan wajah kebijakan publik untuk kepentingan perempuan terwujud. Keterwakilan perempuan dilembaga legislatife dapat meningkat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s