BERPIKIRLAH DALAM KATEGORI BARU

Dewasa ini cara berpikir manusia telah berkembang secara pesat. .    Dulu hanya dikenal  satu jenis berpikir yaitu berpikir rasional. Untuk mengukur kemampuan pikiran rasional ini orang menggunakan tes IQ ( Intelectual Quotient ). Intelectual Quotient atau kecerdasan intelektual diaplikasikan dengan tingkat pendidikan seseorang. Memang kecerdasan intelektual ini tumbuh dan berkembang melalui pendidikan.

Sekarang ditemukan bahwa disamping berpikir rasional, ada  jenis berpikir  lainnya, yaitu berpikir emosional dan berpikir spritual. Berpikir emosional melahirkan kecerdasan emosional (emotional Quotient) dan berpikir spritual melahirkan kecerdasan spritual ( Spritual Quotient).

Kecerdasan emosional disebut juga kecerdasan hati merupakan factor penting dalam pengembangan diri. Orang yang cerdas hatinya akan sukses berkiprah dalam kehidupan, karena dia bertindak penuh dengan pertimbangan manusiawi dan didasarkan pada konteks kehidupan. Disamping itu, orang yang cerdas hatinya akan memiliki kepedulian dan empeti yang tinggi . Kepedulian dan empeti mencakupi nilai yang menghargai semua makhluk hidup.

Sesungguhnya, kecerdasan hati seperti keuletan, ketangguhan, inisiatif, kejujuran, integritas, loyalitas  dan toleransi sangat diperlukan dalam menghadapi ketidakpastian  kehidupan dewasa ini.  Namun, Kecerdasan otak masih dijadikan orientasi. Bahkan pendidikan kita masih berbasis pada kecerdasan otak (kecerdasan intelektual),sehingga melahirkan orang-orang terdidik yang berpikiran  timpang dan arogan, yaitu arogansi intelektual. Orang yang arogan ini kalau ngomong suka “ngaco” dan bila bikin keputusan sering simpang siur.

Kecerdasan spritual adalah kecerdasan untuk menarik makna atau nilai dari   sesuatu fenomena kehidupan. Kecerdasan spritual dapat diartikan sebagai suatu spirit  atau semangat yang selalu memberi makna ibadah pada setiap perilaku dan tindakan melalui langkah-langkah dan pikiran yang fitrah hanya karena Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kalau kita memiliki kecerdasan spritual, maka kita mampu menjelajah ruang batin kita sendiri. Kita  tahu  bagaimana  menilai diri dan memahami segi baik dan buruknya diri sendiri. Selanjutnya kita mampu memahami makna kehidupan : apakah hidup itu absurd, tanpa arah, tanpa bentuk ?, atau apakah hidup itu hanya sekedar peluang dengan nasib seperti melempar dadu acak ?. Tuhan adil, maka CiptaanNya harus diacak, dan nasib bagai sibernetik dengan umpan balik pilihan probabilistic?.

Dengan menjelajahi ruang batin ini, maka  pada akhirnya, kita akan sampai pada kemampuan untuk  membangun hubungan yang padu  dengan Illahi dan membangun hubungan yang harmonis dengan sesama..

Berpikir dengan ketiga cara di atas merupakan berpikir dalam kategori baru. Bila kita mampu berpikir dengan kategori baru ini, maka kita akan memperoleh kecerdasan sempurna. Kecerdasan sempurna tentu saja akan memperkokoh diri dalam kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s