Masalah Gender, politik dan keadilan

Masalah Gender

Gender penting untuk dipahami dan dianalisis. perbedaan  gender  telah  menimbulkan diskriminasi dalam arti perbedaan yang membawa kerugian dan penderitaan terhadap perempuan.

Gender adalah semua atribut sosial mengenai laki-laki dan perempuan, misalnya laki-laki digambarkan mempunyai sifat maskulin seperti keras, kuat, rasional, gagah. Sementara perempuan digambarkan memiliki sifat feminin seperti halus, lemah, perasa, sopan, penakut. Perbedaan tersebut dipelajari dari keluarga, teman, tokoh masyarakat, lembaga keagamaan dan kebudayaan, sekolah, tempat kerja, periklanan dan media.

Gender berbeda dengan seks. Seks adalah jenis kelamin laki-laki dan perempuan dilihat secara biologis. Sedangkan gender adalah perbedaan laki-laki dan perempuan secara social,berkaitan dengan peran, perilaku, tugas, hak dan fungsi yang dibebankan kepada perempuan dan laki-laki. Biasanya isu gender muncul sebagai akibat suatu kondisi  yang menunjukkan kesenjangan gender.

Dengan pendekatan  gender, masalah-masalah yang  dihadapi perempuan tidak dilihat terpisah. Dengan pendekatan gender harus dipastikan bahwa perempuan seperti juga dengan laki-laki, mempunyai akses yang sama terhadap sumber-sumber dan kesempatan. Perbedaan ini timbul karena teori gender diciptakan oleh laki-laki, dan dikembangkan berdasarkan norma dan sudut pandang laki-laki. Bentuk tatanan masyarakat yang pada umumnya patriarchal juga membuat laki-laki lebih dominan dalam sistem keluarga dan masyarakat. Hal ini sangat merugikan kedudukan perempuan dan  menimbulkan diskriminasi atau kerugian di pihak perempuan.

Politik Gender

Di Indonesia, di lingkungan pemerintah maupun swasta, perempuan yang telah berhasil menduduki jabatan tinggi masih sedikit dibandingkan dengan kaum laki-lakinya.Meskipun kita mempunyai menteri wanita, duta besar wanita, jenderal wanita, bahkan presiden, tetapi  sebagian besar dari  perempuan lebih banyak yang buta huruf, lebih banyak yang menjadi  buruh dan pembantu rumah tangga. Kesempatan yang diberikan di bidang pendidikan dan peluang untuk menduduki jabatan eksekutif pada umumnya baru dinikmati oleh segelintir perempuan saja.

Dalam budaya Jawa istri itu sebagai “konco wingking” artinya teman belakang, sebagai teman dalam mengelola rumah tangga khususnya urusan anak, memasak, mencuci dan lain-lain. Citra, peran dan status sebagai perempuan, telah diciptakan oleh budaya. Citra bagi seorang perempuan seperti yang diidealkan oleh budaya, antara lain lemah lembut, penurut,tidak membantah, tidak boleh “melebihi” laki-laki. Peran yang diidealkan adalah  pengelola rumah tangga dan  sebagai pendukung karier suami. Sedangkan status yang diidealkan adalah pengelola rumah tangga dan  istri yang penurut.

Keadilan Gender

Kesetaraan dan keadilan Gender  telah menjadi pembicaraan hangat dalam 20 tahun terakhir ini. Telah dilakukan perjalanan dan perjuangan yang   panjang untuk meyakinkan dunia bahwa perempuan  telah mengalami diskriminasi . Diskriminasi terjadi hanya karena perbedaan jenis kelamin, dan perbedaan  peran secara sosial (gender).

Tahun 1979 Konferensi PBB   menyetujui  penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Konferensi ini lebih dikenal dengan istilah CEDAW dan menjadi acuan utama untuk Hak Asasi Perempuan (HAP).  Indonesia meratifikasi konvensi PBB ini,  dan kemudian  menjadi UU No. 7/1984 tentang anti diskriminasi.  Namun undang-undang ini    tidak pernah disosialisasikan dengan baik oleh negara.

Sekalipun telah undang-undang anti diskriminasi terhadap perempuan namun masih banyak perempuan yang mengalami segala bentuk kekerasan (kekerasan fisik, mental,seksual dan ekonomi) baik di rumah, di tempat kerja maupun di masyarakat. Oleh karena itu PBB kembali mengeluarkan deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan pada tahun 1993.  Indonesia pun meratifikasi konvensi ini yang kemudian melahirkan undang-undang KDRT.

Kondisi masyarakat pada saat ini, mulai berubah. konsep-konsep mengenai  citra, peran dan status perempuan  sudah agak bergeser. Banyak isteri yang bekerja mencari nafkah di luar rumah. Penghasilan isteri juga  berfungsi menambah penghasilan. Isteri yang bekerja mencari nafkah di luar rumah biasanya harus mendapat persetujuan terlebih dulu dari suami. Namun hingga saat ini meskipun isteri bekerja dan berpenghasilan,  sang suami tetap tidak ingin bila posisi dan penghasilan yang diperoleh isteri melebihi sang suami. Penghasilan suami tetap merupakan penghasilan pokok bagi keluarga. Di samping isteri bekerja mencari nafkah di luar rumah tanggung jawab urusan rumah tangga tetap ada di pihak  isteri sehingga dapat dibayangkan beratnya beban yang ditanggung oleh seorang isteri bila ia bekerja di luar rumah (beban ganda).

Di bidang pendidikan tampak bahwa konsep gender juga dominan. Sejak masa kanak-kanak ada orangtua yang memberlakukan pendidikan yang berbeda berdasarkan konsep  gender tersebut. Sebagai contoh kepada anak perempuan diberi permainan boneka, sedang anak laki-laki memperoleh mobil-mobilan dan senjata sebagai permainannya. Bila pada jaman kartini berlaku perbedaan pendidikan bagi anak perempuan dan laki-laki, tampaknya saat ini juga masih demikian. Sebagai contoh masyarakat kita masih menganggap bahwa anak perempuan lebih sesuai memilih jurusan bahasa, pendidikan rumah tangga.Sebaliknya anak laki-laki lebih sesuai untuk jurusan teknik.Perempuan dianggap lemah di bidang matematika, sebaliknya laki-laki dianggap lemah di bidang bahasa. Pada keluarga yang kondisi ekonominya terbatas banyak dijumpai pendidikan lebih diutamakan bagi anak laki-laki meskipun anak perempuannya jauh lebih pandai, keadaan ini menyebabkan lebih sedikitnya jumlah perempuan yang berpendidikan.

Memang tidak dapat disangkal bahwa dewasa ini, jumlah perempuan yang mempunyai karier atau bekerja di luar rumah menjadi lebih banyak. Namun meskipun jumlah kaum perempuan yang bekerja meningkat tetapi jenis pekerjaan yang diperoleh masih tetap berdasar konsep gender. Kaum perempuan lebih banyak bekerja di bidang pelayanan jasa atau pekerjaan yang membutuhkan sedikit keterampilan seperti di bidang administrasi, perawat atau pelayan toko dan hanya sedikit yang menduduki jabatan manager atau pengambil keputusan Dari segi upah masih banyak dijumpai bahwa kaum perempuan menerima upah lebih rendah dari laki-laki untuk jenis pekerjaan yang sama, juga terdapat perbedaan kesempatan yang diberikan antara karyawan perempuan dan laki-laki di mana laki-laki lebih diprioritaskan.

Sesungguhnya, kualitas kepemimpian perempuan telah mulai diperhitungkan, terlihat dari meningkatnya jumlah perempuan yang menjadi pemimpin di eksekutif baik pemerintah maupun swasta. Namun tidak dapat disangkal bahwa persepsi masyarakat, termasuk para perempuan sendiri,   mengenai relasi gender masih jauh dari harapan. Masih banyak yang terkungkung dalam strotipe  perempuan yang harus patuh, melayani dan harus  dirumahkan.

Hal ini terlihat dari hasil Pemilu 2009, target 30 persen perwakilan perempuan di parlemen tidak berhasil dicapai, sekalipun undang-undang Pemilu telah memberi peluang.  Perempuan di DPR-RI hasil Pemilu 2009  hanya 18 persen. Dengan menunjukkan bahwa kemampuan laki-laki dan perempuan adalah sama, maka perempuan di parlemen  berusaha  menggapai kekuasaan di parlemen dengan mengisi jabatan-jabatan pimpinan dalam badan-badan  alat kelengkapan, seperti di komisi-komisi dan badan lainnya.

Perempuan dan laki-laki  memang berbeda secara biologis (perbedaan alami). Perbedaan alami ini adalah   pemberian Tuhan ini, yaitu  perbedaan jenis kelamin. Namun ada perbedaan yang dibangun oleh masyarakat sendiri  (perbedaan tidak alami) , yaitu ketidaksetaraan perempuan dan laki-laki  . Ini terjadi karena kerancuan pemahaman antara perbedaan alami dan yang tidak alami.Perbedaan yang tidak alami atau perbedaan sosial mengacu pada perbedaan peranan dan fungsi yang dikhususkan untuk perempuan dan laki-laki. Perbedaan tersebut diperoleh melalui proses sosialisasi atau pendidikan di semua institusi (keluarga, pendidikan, agama, adat dan sebagainya).

Konsep gender yang dipahami selama ini menyebabkan  perempuan diperlakukan tidak adil dalam masyarakat. Hal ini patut menyadarkan kita dan berjuang terus untuk keadilan dan kesetaraan gender. Kita perlu mengajak seluruh masyarakat terutama kaum perempuan untuk sadar bahwa selama ini perempuan telah diperlakukan tidak adil . Oleh karena itu,  tuntutan kesetaraan dan keadilan gender harus terus didengungkan . Ke depan kita harapkan semua perempuan memiliki kesadaran gender dan ikut menuntut keadilan dan kesetaraan gender. Hak asasi perempuan harus ditegakkan, dunia akan  damai, demokrasi terwujud.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s