BENCANA ALAM PERTANDA MURKA ?

Di awal abad ini, pemanasan global telah membuat heboh dunia. Seiring dengan itu, bencana alam datang silih berganti.Tsunami, gempa bumi, letusan gunung berapi telah mengambil korban yang tidak sedikit. Banyak yang telah kehilangan sanak saudara, kehilangan harta dan mata pencaharian.Derita panjang menghadang korban bencana. Dalam ramalan Jayabaya, tanda –tanda alam adalah perlambang. Pemanasan global dilambangkan dengan kata laran udan yang artinya, kiamat makin mendekat.

Merenungkan makna Ramalan Jayabaya, ada perlambang yang intinya menyatakan bahwa sungai-sungai telah hilang lubuknya, ternyata terjadi  erosi yang disulut oleh pembabatan hutan secara membabi buta . Selanjutnya diramalkan pasar- pasar telah kehilangan gaungnya, karena maraknya pembangunan mal-mal diberbagai kota. Semuanya ini menyadarkan kita bahwa ramalan Jayabaya telah menjadi kenyataan.

Menyimak perjalanan kehidupan bangsa dan negara ini, setelah 32 tahun rezim Orba berkuasa, akhirnya runtuh karena saling bertengkar antar sesama. Kini, negeri ini dikuasai oleh pengaruh asing. Bahkan setelah Reformasi dilakukan dalam segala bidang kehidupan, terjadi konflik dan silang pendapat ”dikalangan elite ” negeri ini tanpa sebab-sebab yang jelas. Tidak ada pemimpin yang disegani. Para pemimpin sekarang hanya lihai bersilat lidah dan berpura-pura wisdom tanpa keteladanan yang memadai. Para pakar dan ahli politik terjungkal ke jurang bimbang, sehingga rakyat berbuat sesukanya. Politik demagogi mengaliri berbagai instalasi politik kita. Dalam Partai, Parlemen, Pemilu,Lembaga Pemerintah telah bersarang para demagog yang terus bekerja keras untuk melanggengkan kekuasaan persis petuah Machiavelly abad XVIII.

Dalam kondisi ini, terjadi amuk massa dan bentrok antar warga. Gusur menggusur dan gugat menggugat serta bongkar membongkar kasus telah menjadi berita setiap hari. Jegalan-jegalan dalam politik , menebar fitnah dan buruk sangka hingga korupsi yang merajalela tidak tahu kapan akan berakhirnya. Kehidupan bangsa sedang berlangsung tanpa pedoman dan tidak ada keteladanan dalam etika dan politik.

Dewasa ini orang dalam kehidupannya berlari tungganglanggang mengejar trisukses duniawi yaitu kedudukan, harta dan popularitas. Untuk meraih trisukses ini, orang tidak segan- segan membentur dinding-dinding moral dan etika. Trisukses ini telah dijadikan tujuan hidup bukan lagi sebagai sarana mempertahankan hidup, sehingga paham homo homini lupus mulai menampakkan dominasinya.Kehidupan berbangsa dan bernegara tampak suram. Para pemimpin sibuk membangun citra agar masyarakat terpesona.

Bencana alam yang terjadi di negeri ini harusnya dilihat sebagai pertanda. Kita sebagai bangsa harus mengerti sinyal yang diberikan oleh yang Maha Kuasa melalui bencana-bencana alam tersebut. Kita harus memahami pertanda apa ini. Ini pertanda Tuhan murka sehingga sudah diperlukan perubahan !

Perubahan ya perubahan yang diperlukan di negeri ini. Tata kelola pemerintahan yang baik atau good governance, itulah yang sangat diperlukan. Tetapi siapakah yang melaksanakan tata pemerintah yang baik itu ? Kapan dan siapa yang bakal tampil untuk mempelopori tata kelola pemerintahan yang baik ? Menjawab pertanyaan ini, kita teringat dengan konsep Ratu Adil . Orang-orang sedang mendambakan munculnya Satrio piningit untuk menjadi pemimpin di negeri ini.

Bencana-bencana alam pertanda Tuhan murka.

Adakah yang Peduli dengan pertanda ini ?.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s