PEREMPUAN PARLEMEN UNJUK GIGI:PEMBERDAYAAN PEREMPUAN JANGAN SETENGAH HATI

kaukus perempuan parlemen Sudah menjadi realitas bahwa Perempuan telah lama mengalami diskriminasi.  Perempuan terhambat  kemajuannya di semua bidang kehidupan.  Maka itu, muncul gerakan perjuangan pemberdayaan perempuan secara global. Pada tahun 1985 PBB menyelenggarakan konferensi perempuan se dunia di Nairobi yang membuat kesepakatan bahwa perempuan harus mendapat kesempatan berkarir di luar rumah, ikut berperan di ruang publik. Perjuangan pemberdayaan perempuan telah terlihat hasilnya dengan lahirnya berbagai konvensi internasional mengenai pemberdayaan perempuan.
Sehubungan dengan ketentuan konvensi- konvensi international ini, maka   pemberdayaan perempuan di Indonesia mulai digarap.  Pemberdayaan perempuan di Indonesia ditandai dengan pembangunan struktur dengan  membangun kementrian pemberdayaan perempuan yang kini  bernama Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( Kemen.PP dan PA).  Namun, banyak pihak menilai  bahwa eksisitensi kementrian ini tidak begitu nyata. “Ada tapi tiada “ . Kementrian PP dan PA  ini kurang gregetnya, karena fungsinya hanya membuat kebijakan bukan eksekutor. Pemberdayaan Perempuan di Indonesia hanya setengah hati ?.
Mengembirakan dan mencerahkan  tokoh-tokoh perempuan, ketika masalah ini dibahas oleh KPP-RI   (Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia ) dalam sebuah lokakarya tentang kelembagaan pemberdayaan perempuan di Jakarta pada Desember tahun lalu.  Dalam event ini  muncul suatu pandangan bahwa  struktur kelembagaan perempuan harus diperkuat. Untuk memperkuat  kelembagaan   pemberdayaan perempuan, diperlukan payung hukum seperti Inpres dan Penpres untuk mengatur penanganan organisasi perempuan dan administrasi serta mengatur  penanganan program dengan  dukungan anggarannya.
Budaya Indonesia sangat patriarkhi, oleh karena itu perlu pemberdayaan perempuan secara structural dan cultural. Pemberdayaan perempuan perlu struktur kelembagaan yang kuat agar tidak merupakan pemberdayaan setengah hati. Pemberdayaan perempuan secara cultural harus segera dibangun.
Selama ini dalam usaha pemberdayaan perempuan hanya seperti “ anjing mengonggong kafilah berlalu” . Nah sekarang, perempuan tidak bisa lagi membiarkan  kafilah berlalu, walaupun gonggongan telah melengking tinggi. Mari terus mengonggong, biar tidak terlindas kafilah dan kafilah berhenti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s